Oleh: Dhita Karuniawati )*
Ketahanan pangan nasional tidak lagi dapat hanya bertumpu pada komoditas beras. Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gizi. Di tengah tantangan global berupa gangguan rantai pasok pangan, fluktuasi harga bahan baku, hingga ancaman krisis pangan dunia, Indonesia mulai memperkuat strategi baru melalui hilirisasi industri peternakan ayam.
Langkah tersebut kini menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam membangun sistem pangan nasional yang lebih kuat, modern, dan berkelanjutan. Hilirisasi ayam dipandang bukan hanya sebagai upaya meningkatkan produksi peternakan, tetapi juga sebagai strategi memperkuat rantai pasok pangan dari hulu hingga hilir agar lebih efisien dan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang besar.
Selama ini industri perunggasan nasional masih menghadapi persoalan struktural yang berulang, mulai dari ketidakseimbangan produksi dan penyerapan pasar, fluktuasi harga ayam dan telur di tingkat peternak, hingga lemahnya integrasi antara sektor produksi, distribusi, dan pengolahan. Kondisi tersebut membuat peternak rakyat menjadi kelompok paling rentan ketika terjadi gejolak pasar.
Karena itu, pemerintah mulai mendorong model industri ayam terintegrasi yang tidak hanya fokus pada produksi ayam hidup, tetapi juga penguatan sektor pembibitan, pakan, rumah potong unggas, industri pengolahan makanan, logistik rantai dingin, hingga distribusi produk olahan bernilai tambah tinggi. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan stabilitas harga sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak nasional.
Percepatan hilirisasi tersebut kini mulai dijalankan PT Berdikari sebagai BUMN sektor peternakan yang berada di bawah holding pangan ID FOOD. Melalui Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT), perusahaan mulai mengonsolidasikan berbagai kekuatan nasional seperti akademisi, badan riset, ilmuwan, praktisi peternakan, dan pemerintah untuk membangun fondasi baru industri unggas nasional.