Oleh : Helmi Alfian )*
Pemerintah menunjukkan sinyal kuat optimisme dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global dengan meluncurkan lima program stimulus ekonomi pada pertengahan Juni 2025. Langkah ini bukan hanya bentuk respons atas perlambatan ekonomi dunia dan tekanan geopolitik, tetapi juga strategi proaktif untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan konsumsi domestik, dan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berada pada jalur positif.
Kebijakan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa pemerintah hadir dan sigap dalam menjawab tantangan zaman, tidak hanya dengan retorika, tetapi melalui program-program nyata yang terukur dampaknya. Dengan merancang stimulus secara komprehensif yang mencakup bantuan sosial, dukungan terhadap sektor usaha, serta penguatan industri strategis, pemerintah ingin memastikan bahwa pemulihan ekonomi tidak bersifat sementara, melainkan menjadi fondasi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di masa mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan Pemerintah telah meluncurkan lima paket stimulus ekonomi pada pertengahan Juni 2025 lalu bertepatan dengan masa liburan sekolah. Langkah ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua tahun ini. Lima program stimulus tersebut meliputi Diskon Transportasi (Rp 0,94 triliun dari APBN), Diskon Tarif Tol (Rp 0,65 triliun, non-APBN), Penebalan Bantuan Sosial (Rp 11,93 triliun dari APBN), Bantuan Subsidi Upah (Rp 10,72 triliun dari APBN), dan Perpanjangan Diskon Iuran JKK (Rp 0,2 Triliun, non-APBN). Masing-masing dirancang agar saling melengkapi dan memberikan efek berantai terhadap pergerakan ekonomi, baik di sektor riil maupun fiskal. Program bansos misalnya, ditujukan untuk meredam gejolak harga bahan pokok yang belakangan ini mengalami kenaikan.